Kisah Inspiratif "AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA"

(by : Gereja Katolik)


Sapaan seorang sahabat,

Mungkin Anda akan mencapku sebagai seorang romo yang terlalu cengeng, tapi

aku tidak mau menyembunyikan gejolak perasaan kemanusiaanku ketika mencoba

membaca dan menterjemahkan kisah ini dalam bahasa Indonesia yang sederhana

dan mudah untuk dimengerti. Beberapa kali aku harus berhenti sejenak,

merenung bahkan tak terasa rasa sedih menyelimuti seluruh tubuhku atas

sentuhan kata-kata yang terangkai dalam kalimat-kalimat penuh makna dalam

kisah ini. Semoga saja kisah ini menjadi bahan pembelajaran bagi teman-teman yang baik

sedang merencankan untuk menikah, yang telah hidup dalam pernikahan, tapi

terlebih untuk teman-teman yang mengalami goncangan dalam hidup perkawinan

mereka saat ini. Percayalah.Tuhan sedang menegur dan mengingatkanmu akan

keutuhan dan kekudusan pernikahan lewat kisah yang sedang Anda baca ini.


AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA


Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam

untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; "Saya ingin mengatakan

sesuatu kepadamu." Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati

makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang

memendam luka batin yang membara.


Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata

rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku

mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara

kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang.

Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah

balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?


Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia

membuang choptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, "engkau bukan

seorang laki-laki sejati." Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia

terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan

dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah

jawaban yang memuaskan; "Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang

terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya

kasihan kepadanya."


Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan

persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan

30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu.

Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah

menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf

untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku,

untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat

menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh

mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang

mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak

mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku

telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.


Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia

sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan

malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan

akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat

itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil

melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan

tidurku.


Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya

sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi

hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan

sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu

kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri.

Alasannya sangat sederhana; "Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu

sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami."

Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta

beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu,

aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku

harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami.

Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur

sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan

tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah

untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.

Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang

ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan

berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja

apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian

yang telah kita rencanakan, demikian kata Jane.


Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu

itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada

hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan

bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow.papa sedang menggendong

mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.


Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya

sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan;

"Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita." Aku menurunkannya di

depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan

membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke

kantorku.


Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat

melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan

pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan

saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda

lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai

beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit

aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama

perkawinan kami.


Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah

perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku

yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10

tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai

menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di

hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita

yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik

karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa

menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.


Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak

dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang

cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa

terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia

semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah

menggendongnya pada hari-hari itu.


Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku.Dia

telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu

mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, "Papa, sekarang

waktunya untuk menggendong dan membawa mama." Baginya, menggendong dan

membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku

mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku

memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan

putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada

saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan

kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai

ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat

romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis

satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment

hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.


Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari

terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat

berat untuk menggerakkan walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah

pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah

memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan

keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan

ke kantorku..melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku

sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku.

Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf,

Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.


Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian

menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku

mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan

bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak

memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak

saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku

menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat

kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya

sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat

kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu

dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan

terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai

mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang

jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa

yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; "Aku akan

menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput."


Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah

senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya

untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya

untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang

kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami

tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang

melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa

pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane.

Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat

akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan

negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku

sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk

menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan

pernikahan kami dan demi putra kami.


----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami - aku adalah seorang ayah yang

penuh kasih dan sayang..demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.

Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi

hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan

apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai

kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan

itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi

kebahagiaan itu.


Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah

hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan

keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang

bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!

Jika engkau tidak ingin membagi cerita ini, pasti tidak akan terjadi

sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.

Akan tetapi, kita engkau mau membagi cerita ini kepada sahabat kenalanmu,

maka satu hal yang pasti bahwa Tuhan sedang menggunakanmu untuk

menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sekarang

mengalami masalah dalam pernikahan mereka.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat yang menikah maupun

yang berencana untuk menikah,

***Duc in Altum***

Komentar

Postingan Populer